Hillary Clinton Ke Indonesia


my INDONESIAKunjungan Hillary Rodam Clinton sebagai menteri luar negeri AS ke Jakarta di satu sisi merupakan bukti bahwa Pemerintahan AS di bawah kendali Obama ingin membuka hubungan yang lebih erat dengan Indonesia. Karena, bagaimanapun, Obama pernah tinggal di Jakarta. Oleh sebab itulah, Indonesia menjadi negara yang harus dikunjungi dalam lawatan Hillary ke Asia. Namun, ada kesan lain. Hillary ingin mencoba mengulang kembali kemesraan dengan dunia Islam, seperti Indonesia. Karena, pada saat suaminya dulu (Bill Clinton) menjadi presiden AS, Indonesia pun menjadi negara Islam yang dikunjungi.

Dalam bahasa Fawaz A Gerges dalam karyanya America and Political Islam (1999), diplomasi yang digunakan Bill Clinton dalam mendekati Islam disebut dengan hubungan cooperative anakronisme dari kebijakan dinasti Bush yang confrontative. Tampaknya, diplomasi semacam itulah yang digunakan Hillary dalam menjalankan politik luar negeri AS. Merupakan suatu keuntungan bagi Indonesia tatkala Hillary menjadikan Indonesia sebagai “pilot project” dalam melihat Islam. Karena, selama ini, para penentu kebijakan luar negeri AS, terutama kaum Republik, selalu melihat dari kacamata Timur Tengah yang sangat agresif dan sangar. Hillary ingin menunjukkan bahwa ada dunia Islam lain yang lebih ramah, toleran, dan moderat, seperti Indonesia.

Meskipun Indonesia diterjang isu terorisme yang kurang menyedapkan, di sisi lain banyak kampanye di dunia Barat, seperti AS, yang dilakukan oleh lembaga-lembaga sosial bahwa fenomena terorisme atau gejala radikalisme Islam di Indonesia adalah fenomena peripheral. Dalam arti, suara dari secuil kalangan Muslim yang tergolong memiliki pemahaman sempit terhadap Islam ingin mencoba lebih didengar dalam pentas politik nasional ataupun global. Tapi, dalam bahasa Bruce Lawrence dalam Shattering the Myth (2003), fenomena terorisme bukanlah peripheral, melainkan fenomena kelainan dalam beragama, jadi di situ tak ada kaitan dengan agama dalam hal ini Islam.

Semoga saja Hillary ataupun Obama melihat kacamata terorisme, khususnya di Indonesia, dalam perspektif Bruce Lawrence. Karena, Islam tak ada kaitannya dengan terorisme. Teroris justru membajak Islam, yakni menggunakan kekerasan dengan dalih agama. Ada suatu keyakinan yang tinggi bahwa dinasti kaum Demokrat dalam Pemerintahan AS akan melihat perspektif yang lain dalam menilai suatu objek, termasuk Islam dan masyarakat Muslim. Hillary sebagaimana kaum Demokrat, seperti juga Bill Clinton, melihat Indonesia sebagai representasi Islam moderat. Masyarakat Muslim Indonesia terkenal di dunia luar karena budaya pendidikan pesantren yang mengajarkan nilai-nilai moral dan tradisi keilmuan yang tinggi.

Semoga misi Hillary tetap pada substansi utama seperti keinginan Obama dalam pidato pengukuhannya, yaitu ingin memantapkan persahabatan dan perdamaian dengan asas kesetaraan. Selama kepemimpinan Bush, Washington selalu menekan Indonesia, seperti terkait dengan pelanggaran HAM di Timor Timur (Peristiwa Santa Cruz 1991) dan kekerasan pascalepasnya Timor Timur pada September 1999. AS memberlakukan embargo senjata dan pelatihan militer International Military Education and Training (IMET) bagi para perwira RI dan baru mencabutnya pada Mei 2005 (Tangkilisan, 2009).

Dari perspektif itu, tampaknya kunjungan Hillary ke Indonesia akan lebih banyak melihat, mendengar, dan meraih aspirasi dari negara yang kebetulan penduduknya mayoritas Muslim, namun asas dan ideologi politiknya nasionalisme-kebangsaan. Hillary akan menyaksikan Indonesia yang berasaskan Pancasila serta menghargai pluralisme etnis, aliran/pandangan politik, agama, dan kebangsaan/persatuan. Indonesia menolak dominasi mayoritas atau penonjolan minoritas. Indonesia memang sering menghadapi unsur-unsur eksklusivitas, namun pegangan asas kebhinekaan tidak memberikan tempat bagi tirani dan eksklusivitas golongan tertentu, seperti gejala fundamentalisme dan radikalisme beragama.

Selama ini, dunia mempertanyakan, mengapa di masa Bush dominasi AS begitu menonjol dalam konteks pergaulan global, bahkan cenderung memusuhi negara-negara Islam, seperti Iran, Suriah, Irak, dan Afghanistan, bahkan kelompok-kelompok tertentu di berbagai negara. AS mengerahkan pasukannya memerangi para ekstremis. Terlepas dari gaya presiden Bush, Washington benar-benar terkejut dan prihatin atas serangan teroris 11 September 2001 di New York yang menewaskan 2.300 orang. Suatu serangan brutal yang menghancurkan peradaban dan kemanusiaan.

Menghadapi ekstremitas dan terorisme, Bush menciptakan kamp penahanan Guantanamo yang kini ditutup oleh Obama. Suatu hal yang bertentangan dengan HAM dan tradisi perang, di mana tawanan perang hanya dilegalkan selama masa perang. Bush sendiri sejak 2007 sudah didesak menutup Guantanamo meskipun hambatannya adalah mengadili sekian ratus orang sekaligus. Indonesia juga membentengi diri melawan terorisme, seperti insiden bom Bali I dan II, bom Hotel Marriot, serta spekulasi serangan teroris lainnya di Jawa dan Sumatra. Maka itu, Obama tetap menjalankan kebijakan total AS menghadapi teroris Al Qaeda sehingga memindahkan sekitar 30.000 pasukannya untuk memperkuat 22.000 tentara AS yang beroperasi menghancurkan terorisme Al Qaeda di Afghanistan.

Faktanya, pascaserangan 11 September 2001, teroris menyerang Inggris, Spanyol, Maroko, Turki, Indonesia, dan Arab Saudi. Informasi terorisme di berbagai negara, termasuk Indonesia, tentu diamati Obama dan Menlu Hillary. Karena itulah, kunjungan Hillary lebih banyak mendengarkan resep-resep penataan kebangsaan Indonesia, khususnya menghadapi, menampung, dan mengelola aspirasi umat Muslim yang tersebar dalam berbagai partai politik nasional. Umat lainnya pun menjaga hubungan baik dengan mayoritas Muslim Indonesia.

Hillary jelas menawarkan kerja sama baru yang setara dan mengutamakan Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar dunia sebagai penentu di ASEAN dengan sumber daya ekonominya yang signifikan. Apalagi, Obama mempunyai kenangan khusus masa kecil karena empat tahun berdiam di Jakarta. Aspek psikologis ini tentu ikut membantu meningkatkan hubungan bilateral dan kerja sama kedua negara yang jumlah penduduknya hampir sama (260 juta dan 220 juta orang). Kesempatan baik ini menuntut diplomasi cerdas dari pejabat-pejabat Indonesia untuk meraih manfaat dari kunjungan Menlu Hillary Clinton.

Bangga Jadi Orang Indonesia

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s