65 Tahun Indonesia (1)


Pepatah mengatakan, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya. Ketika seorang anak kecil ditanya tentang bagaimana menghargai para pahlawan, dia menjawab “Ya tergantung siapa dulu pahlawannya? Kalau Sukarno-Hatta seratus ribu, kalau Sultan Badaruddin ya sepuluh ribu”

Sebagai putra bangsa yang sedang studi di luar negeri, kadang kita terkagum-kagum dengan kemajuan peradaban negeri yang kita tempati. Jika di negara besar, perbandingan negara tersebut dengan Indonesia serasa bumi dengan langit, jika di negara kecil serasa rumput lapangan bola dengan rumput teki dipinggir jalan. Mulai dari pembangunan, perekonomian, hasil bumi, teknologi, bahkan pribadi warga negaranya, sangat mencengangkan.    

Ketika kita ditanya kalau kita kagum dengan semua ini, kira-kira sepulang nanti, apa yang akan kita lakukan untuk memperbaiki bangsa, maka sebagian dari kita menjawabnya dengan “Sebenarnya saya ingin berbuat banyak, tetapi ketika pulang saya tidak punya teman untuk berbuat, mereka bahkan menentang dan mencemooh”.

Sekarang kita bisa mengingat kembali pelajaran sejarah ketika SD dahulu (kalau tidak salah dulu namanya PSPB – Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa). Pada pelajaran itu disampaikan ke kita tentang perjuangan para pahlawan dalam memerdekakan bangsa, merubah dari kondisi terjajah menjadi merdeka seutuhnya.

Sebelum era diplomasi (pergerakan nasional), banyak pejuang yang kembali dari menuntut ilmu di luar negeri, seperti ilmu agama, ataupun yang sering bekerjasama dengan pihak asing, mengobarkan semangat kepada masyarakat sekitar untuk bangkit. Tak jarang mereka memperoleh pertentangan dari masyarakat, rekan sejawat, tokoh masyarakat, bahkan juga saudara terdekat. Ambilah contoh Sultan Iskandar Muda, Kyai Mojo, Tuanku Imam Bonjol, RM. Tirto Adhi Soerjo, serta pejuang-pejuang lainnya. Mereka berusaha untuk mengangkat derajat rakyatnya meskipun mendapat tantangan dari berbagai pihak. Ilmu yang mereka peroleh di luar negeri benar-benar bermanfaat dan mempu mereka terapkan di tengah-tengah masyarakat. Bahkan ancaman dari rekan sebangsanya sendiri pun tidak kalah hebat. Namun itu bukan alasan mereka untuk mengurungkan niat memperbaiki kondisi masyarakat. Bahkan mereka membentuk kelompok-kelompok kecil yang menjadi cikal bakal perubahan bangsa ini.

Setelah itu muncullah kaum terpelajar yang memulai cara-cara baru untuk perjuangan bangsa. Mereka memulai dengan cara diplomasi hingga mereka berhasil merumuskan perencanaan kemerdekaan Indonesia. Bisa kita lihat latar belakang mereka. Mereka menuntut ilmu di negeri seberang. Kemudian dari sana mereka mulai membentuk organisasi-organisasi untuk membangkitkan kembali semangat persatuan bangsa guna mengusir penjajah. Semangat yang mereka kobarkan membuahkan perubahan menuju bangsa yang lebih baik dan bermartabat. Terlepas dari kontroversi yang ada, bisa kita buka kembali sejarah organisasi-organisasi bentukan mahasiswa Indonesia yang berada di luar negeri maupun yang sudah kembali ke tanah air. Mulai dari Budi Utomo (pelajar STOVIA), Indische Partij, Indische Vereneeging (Perhimpunan Indonesia), PNI, serta organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah, NU, dan sebagainya. Selain itu banyak tokoh yang secara individu juga berjuang membangun bangsa seperti Muh. Hatta, Ki Hajar Dewantara, Ir. Soekarno, Dr. Soetomo, dan masih banyak lagi. Perjuangan mereka berhasil membawa perubahan dan kemerdekaan bangsa ini, dan bisa dilihat betapa berapa besar tantangan yang mereka dapatkan terutama dari dalam negeri sendiri.

Perjuangan para pemuda Indonesia yang baru pulang dari menempuh pendidikan di luar negeri, baik pendidikan militer, kesehatan, sains dan teknologi, sosial kemasyarakatan, perekonomian, agro kompleks, keagamaan, maupun pendidikan lainnya, sangat bisa dinikmati oleh masyarakat. Mereka pergunakan ilmu yang mereka peroleh untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa hingga mengisi kemerdekaan. Mereka melakukaknya di tengah-tengah bangsa yang sedang stabil maupun sedang kacau. Ditengah tengah teman yang mendukung, maupun orang-orang yang hanya mencari kepentingan sesaat.

Kembali ke pepatah yang disampaikan di awal tulisan ini. Seberapa besar kita menghargai mereka berarti seberapa besar menghargai amanah yang mereka berikan, menghargai titipan Yang Maha Kuasa, yang secara turun temurun akan dinikmati anak cucu kita. Jika kita buka kembali goresan tinta emas yang tertoreh dalam sejarah Bangsa Indoesia tersebut, meneladani para pahlawan untuk kebangkitan bangsa Indonesia, bisa jadi merupakan cara menghargai mereka.

Bangga Jadi Orang Indonesia

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s