65 Tahun Indonesia (2)


Negara dibentuk atau didirikan, bukan tanpa maksud, seperti halnya negara kita. Suatu bangsa, ras, suku, ataupun kumpulan-kumpulan komunitas yg meleburkan diri menjadi satu, membangun suatu organisasi besar yg disebut negara, pastilah memiliki tujuan atau maksud dalam pembentukannya. Bangsa Indonesia yg terbagun atas pluralisme (jamak jadi satu) bersatu mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, memiliki tujuan dalam pendiriannya secara subjektif yaitu ingin terbebas dari belenggu penjajah, dan bebas menentukan nasibnya sendiri. Inilah tujuan dibentuknya Negara Indonesia. Tujuan bangsa lainnya dapat dianalisis melalui latar belakang bangsa itu sendiri dan setiap bangsa memiliki latar sejarah dalam pembentukan negara mereka. Negara berbentuk kerajaan akan berbeda tujuan pembentukannya dengan negara bentuk Republik. Terkadang dalam pembentukan negara harus melalui pertumpahan darah / konflik / polemik yg disebabkan adanya perbedaan ideologi yg ingin dipakai, atau ada pihak lain yg ingin mencegah pembentukan tsb.    

Organisasi yg sudah dibentuk harus memiliki orientasi dalam menjalankanya, diperlukan tujuan yg jelas guna tetap memperlangsungkan kehidupan bernegaranya. Tujuan itu biasanya secara langsung dipaparkan dalam kontitusi negara tsb, yg dalam pelaksanaannya dilandasi oleh sebuah dasar negara. Pemerintah dibentuk untuk menjalankan organisasi tsb mencapai tujuannya.
Indonesia dengan jelas memapaparkan tujuannya dalam Pembukaan UUD tahun 45. Masalah yg terjadi dalam praktek bernegara, kita belum sanggup mencapai tujuan itu, walaupun pemerintah dengan peraturan serta kebijakannya sudah menunjukan arah ke sana, tetapi aplikasi di lapangan yg kurang bahkan tak didukung oleh masyrakat pelaksana maupun sasaran, menyebabkan kebijakan tsb tidak mencapai sasaran bahkan tidak berjalan.
Seperti halnya kebijakan BOS yg dislangarakan oleh pemerintah demi mencerdaskan kehidupan berbangsa, sesuai tujuan kontitusi bangsa Indonesia, menjadi ladang bagi para koruptor. Sasaran BOS yg diperuntukan bagi para pelajar beralih ke kantong kantong pejabat yg menangani BOS. Bukan hanya BOS, program ASKES-pun menjadi beralih sasaran. Inilah yg penyebab berbagai krisis yg menghambat tercapainya tujuan suatu negara, adanya pihak pribadi maupun kelompok yg salah mempergunakan kebijakan ini demi keuntungan pribadi.
Hut ke 65 tahun ini, bisa kita jadikan refleksi kehidupan berbangsa bernegara kita. Dari jaman Pak Karno sampai jaman Pak Beye, haruslah kita lihat lagi, perjalanan bangsa ini. Karena dari situ bisa kita jadikan refleksi usaha bangsa Indonesia mencapai tujuannya. Kita harus meluruskan arah tujuan kita kembali, yg selama ini melenceng karena ulah kita sendiri. Tujuan yg telah kita sepakati 65 tahun yg lalu. Kita perlu mendukung program kebijakan pemerintah yg memang mengacu ke arah tujuan kontitusi. Tapi kita juga perlu kritis terhadap tiap kebijakan pemerintah,  dengan cara kritis ini, kita menjadi peng-ngontrol / pengawas pemerintah supaya apa yg menjadi cita cita kita bisa terwujud, dengan adanya kerja sama antara pemerintah dan rakyat.
Usaha sekecil apapun, untuk pembangunan bangsa kita akan sangat berguna untuk ke depan, yg nantinya untuk kesejahteraan kita bersama. Jangan berpikir apa yg dapat diberikan negara untuk anda, tetapi berpikirlah apa yg dapat kita berikan untuk negara. Demi terwujudnya tujuan negara kita.
Sekali lagi, inilah waktunya kita berbenah diri. Ulang tahun ke 65 ini, haruslah ini menjadi patokan awal pembenahan. Dirgahayu ini kita jadikan cermin untuk berbenah diri ke arah yg lebih baik. Demi tegaknya Sang Saka Merah Putih.

Bangga Jadi Orang Indonesia

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s