Museum Tuguh Pahlawan KabarMu Kini


Mungkin tidak semua orang khususnya warga Kota Surabaya sendiri mengetahui keberadaan Museum 10 November yang berlokasi di dalam Tugu Pahlawan Jalan Pahlawan, Surabaya. Padahal, di museum yang terdiri atas dua lantai tersebut terdapat rekaman asli pidato Bung Tomo yang berapi-api membangkitkan gelora dan hasrat serta semangat masyarakat untuk mempertahankan kemerdekaan yang dapat didengarkan dari sebuah radio kuno.

Bahkan beberapa diorama statis menggambarkan aksi kepahlawanan arek-arek Suroboyo, yang hanya dengan menggunakan senjata sederhana berupa bambu runcing mampu memenangkan pertempuran melawan penjajah. Museum 10 November yang diresmikan pada tahun 2000 itu merupakan kebanggaan atas keberanian arek-arek Suroboyo pada pertempuran heroik tanggal 10 November 1945.    

Sayangnya, di Kota Pahlawan ini tidak semua warga Surabaya mengetahui akan sejarah itu. Bahkan orang hanya memandang bangunan-bangunan itu penghias kota tanpa makna dan arti. Salah seorang pengunjung Museum 10 November yang juga siswa kelas 6 SD Muhammadiyah 10 Balong Bendo Sidoarjo, Ifan, mengaku, dia baru pertama kali mengetahui adanya museum yang berada di bawah Tugu Pahlawan. “Saya tidak tahu karena baru pertama kali ini datang ke sini,” ucap Ifan saat mengunjungi Museum 10 November bersama dengan rombongan siswa SD lainnya.

Selama ini, Ifan mengaku hanya mengetahui sosok pahlawan nasional Bung Tomo dari pelajaran sejarah di bangku sekolah. Namun, ia sendiri tidak mengetahui korelasi antara Tugu Pahlawan, Museum 10 November dengan Tokoh Bung Tomo itu sendiri.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh siswa lainnya, Yunus. Ia mengaku, mendapat pengetahuan soal Tugu Pahlawan bukan dari gurunya melainkan dari orang tuanya. “Tapi saya tidak pernah diajak ayah saya datang ke sini,” kata Yunus dengan polosnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 10 Balong Bendo Sidoarjo, Ahmad Irjik, mengatakan bahwa kunjungan ini merupakan yang pertama kali diadakan di sekolahnya.

“Ini merupakan kegiatan ekstrakulikuler atau kegiatan di luar kelas. Kami berharap dengan kegiatan ini, wawasan para siswa menjadi bertambah,” ujarnya.

Ia sendiri mengakui bahwa masih banyak siswa yang tidak terlalu mengetahui sepak terjang Bung Tomo dalam perjuangannya melawan penjajah di Surabaya.

Untuk itu, katanya, selain mengadakan kegiatan ekstrakulikuler, pihaknya juga menambahkan pelajaran sejarah khususnya perjuangan Bung Tomo dan arek-arek Suroboyo dalam melawan Tentara Sekutu pada 10 November 1945.

Pagar Penghalang

Selain banyak di antara warga yang tidak tahu keberadaan Museum 10 November, bangunan pagar tembok yang menjulang tinggi yang melingkari Tugu Pahlawan, juga dinilai menjadi penghalang.

Hal itu disebabkan pagar tersebut menutup pemandangan bagi warga atau pengguna kendaraan bermotor melintas di sekitar lokasi Tugu Pahlawan. Warga hanya mengetahui Tugu Pahlawan dari jarak jauh.

Sempat ada usulan dari DPRD Kota Surabaya periode lalu agar bangunan pagar tersebut dibongkar, sehingga warga dengan leluasa melihat Tugu Pahlawan itu dari bawah sampai atas.

Namun usulan tersebut sempat ditolak oleh Tim Cagar Budaya Kota Surabaya karena berdasarkan hasil penilitian arsitek dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, bisa mengakibatkan kebisingan khususnya di lokasi museum.

“Keberadaan pagar tersebut menurut arsitek dari ITS sebagai penghalang suara-suara dari luar (kendaraan bermotor) yang masuk ke dalam museum,” kata Staf Bagian Pemeliharaan dan Perawatan UPTD Tugu Pahlawan dan Museum 10 November, Riyanto.

Menurut Riyanto, Tugu Pahlawan dan Museum 10 November merupakan bagian dari tempat sejarah atau wisata yang sering dikunjungi warga. “Jika tempatnya bising, otomatis mengurangi kenyamanan pengunjung,” kilahnya.

Namun demikian, katanya, untuk meningkatkan jumlah pengunjung di museum tersebut, pihaknya terus menerus melakukan promosi baik berupa penyebaran pamflet dan brosur, menggelar pentas seni, sosialisasi ke sekolah maupun masyarakat. “Adanya pemberitaan dari media massa, kami juga merasa terbantu,” katanya.

Riyanto mengatakan jumlah pengunjung di museum tersebut mengalami kenaikan, seperti halnya pada tahun 2009 mencapai 60 ribu pengunjung, namun di akhir 2010 sudah mencapai 80 ribu pengunjung.

Kebanyakan para pengunjung tersebut adalah dari kalangan pelajar. Biasanya untuk hari-hari normal, kebanyakan pengunjung dari kalangan pelajar, sedangkan pada hari Minggu dari kalangan umum. Untuk hari Sabtu libur.

Mengenai tarif masuk ke museum tersebut, katanya, selama ini tidak ada perubahan yakni tetap Rp2.000 per orang.

Adapun koleksi di museum yang terdiri dua lantai tersebut, yakni untuk lantai pertama terdapat 10 gugus patung yang melambangkan semangat juang Arek-Arek Suroboyo.

Selain itu, di lantai ini juga terdapat sosio drama pidato Bung Tomo serta ruang pemutaran film pertempuran 10 November 1945 (diorama elektronik) dan ruang auditorium.

Sementara, di lantai dua digunakan sebagai ruang pamer senjata, reproduksi foto-foto dokumenter, dan koleksi peninggalan Bung Tomo. Terdapat pula ruang diorama statis yang menyajikan delapan peristiwa seputar pertempuran Sepuluh November 1945, lengkap dengan narasinya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Surabaya Wiwiek Widayati, membantah bahwa pihaknya kurang melakukan sosialisasi mengenai keberadaan Museum 10 November itu.

Menurut dia, pihaknya sudah memberikan masukan ke Dinas Pendidikan Kota Surabaya agar mengadakan kegiatan ekstrakurikuler berupa kunjungan ke Museum 10 November bagi sekolah-sekolah di Surabaya. “Seosialisasi itu sudah kami lakukan baik di sekolah maupun masyarakat,” ucapnya singkat.

Sebelumnya, Wiwik mengatakan untuk kunjungan museum, Pemkot Surabaya baru bisa mengandalkan dua museum yang ada di Surabaya yakni Museum 10 November dan Museum “House Of Sampoerna” yang menjadi pusat kunjungan wisata asing dan Nusantara.

Menurut Wiwik, selain dua museum itu ada beberapa museum lain yang pengelolaannya dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan instasi lain, seperti Museum Kesehatan, Monumen Yos Sudarso di Ujung Perak, Museum Uang yang akan dibangun Bank Indonesia di bekas bangunan Museum Mpu Tantular di Wonokromo.

Khusus di Monumen Yos Sudarso, rencananya akan dijadikan Museum Bahari yang akan dikelola bersama antara Pemkot Surabaya dan Armatim.

Sementara untuk Museum Uang, sampai sekarang juga masih dibahas proses pengelolaannya bersama BI. Hal itu untuk memastikan agar tahun ini, museum tersebut bisa segera dioperasikan dan dibuka untuk umum.

Bangga Jadi Orang Indonesia

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s