Pelopor Kebangkitan Nasional


SEMENJAK lahir pada tangal 20 Mei 1908 hingga 31 tahun kemudian, ternyata gerakan Boedi Oetomo (BO) ini tak pernah mau mengakui bahasa melayu sebagai bahasa nasional. Di Gerakannya sangat eklusif, tidak mau menerima anggota dari luar Jawa serta menginginkan bahasa Jawa atau Belanda sebagai bahasa nasional. Di sisi lain, kolonial Belanda terus menancapkan “virus-virus hedonisme” untuk membelenggu kaum feodalis dan kalangan ningrat termasuk juga orang-orang BO.     

Semua ini menjadikan beberapa tokoh pejuang nasional menganggap BO adalah gerakan kebudayaan kejawen tulen, Jawa Nederland yang harus di hormati, dan menafikan peranan pemuda dari luar jawa. Keprihatinan dan kekesalan inilah yang mendorong HOS Cokroaminoto dibawah bendera Sarekat Islamnya menjadi pelopor kebangkitan nasional. Di tengah-tengah para duta multi suku dan golongan, HOS memperkenalkan paradigma nasionalisme untuk membela dan membangun Nusantara saat kongres Nasional Central Sarekat Islam di Bandung tahun 1916.

Ia mendeklarasikan Pemerintahan sendiri untuk bangsa Indonesia dan tidak mengakui nama Hindia Belanda yang diberikan oleh Belanda untuk Nusantara. Sebagai bangsa timur. HOS lebih bangga menyebut Indonesia dengan Hindia Timur dan mempelopori pergerakan nasional untuk menuntut kemerdekaan Indonesia dari kolonialis barat.

Gerakannya memakai konsep pemikiran yang nasionalis berlandaskan Islam dalam melawan penjajah. Sehingga ada istilah penjajahan yang di lakukan oleh kolonial barat (Belanda) terhadap Indonesia merupakan penjajahan yang di lakukan bangsa kafir terhadap umat Islam.

Sarikat Islam (SI) yang sebelumnya bernama Sarikat Dagang Islam ini makin berkembang dan diperluas untuk seluruh Rakyat Indonesia yang beragama Islam. Sayang, semua ini tak pernah ditulis dalam tinta sejarah, sehingga kaum generasi muda selama ini hanya tahu jika kebangkitan nasional dengan 20 Mei itu dipelopori oleh gerakan Boedi Oetomo.** (Imm)

Ketika perang Dunia I (1914-1919) meletus, SI mendapat pengakuan dari Belanda dan dijanjikan berbagai fasilitas. Namun Cokroaminoto tidak silau oleh tebar pesonanya Belanda. Dengan sangat hati-hati ia mengirimkan wakilnya agar duduk di Dewan Penasehat Gubernur Jenderal (Volksraad) untuk jadi spion dan menjaring informasi sebanyak-banyaknya dari Belanda. Namun ternyata pada tahun 1917 ia di khianati oleh SI Semarang pimpinan Semaun dan Darsono. Mereka lebih dulu menyusup dan mengadakan hubungan dengan Indische Social Demokratische Vereniging (ISDV) untuk menyebarkan aliran revolusioner sosialistis-nya ISDV yang nantinya menjadi partai sosialis-komunis. (sumber RH Saragih, J Sirait, M Simamora, Sejarah Nasional, hal.134-139, 1987)

HOS Cokroaminoto bersama H Samanhudi tetap mempertahankan organisasi dagang yang berlandaskan syariat Islam dan kerakyatan yang berhaluan anti imperialis-kapitalis. Ia bertujuan untuk mempersatukan saudagar-saudagar pribumi agar menjadi kuat untuk menghadapi pedagang Tionghoa yang sombong akibat kemenangan Dr Sun Yat-sen pada Revolusi Tiongkok 10 Oktober 1911 dan oleh monopoli Belanda yang telah menguasai hampir semua cabang ekonomi rakyat.

GURU SOEKARNO

Adalah jalan sejarah jika Sukarno kecil dititipkan di keluarga Haji Oemar Said (H.O.S.) Cokroaminoto di Gang Peneleh, Surabaya. Adalah suratan takdir jika kemudian Sukarno menjadi salah satu murid kesayangan Cokroaminoto. Adalah sebuah keniscayaan jika kemudian Sukarno menjadi tokoh nasionalisme penting negeri ini.

Dalam banyak literatur, Bung Karno selalu menyebut nama Cokroaminoto sebagai guru sekaligus pujaannya di kala muda. Bung Karno tidak pernah menafikan peran Cokroaminoto yang menggembleng Sukarno muda dengan sekeras-kerasnya. Bung Karno sering membuntuti Cokro yang ketika itu berusia 30-an tahun, berkeliling dari satu daerah ke daerah lain, menjadi guru ngaji, tetapi juga menyelipkan pesan-pesan perjuangan, tebaran-tebaran semangat untuk merdeka, lepas dari penindasan bangsa Belanda.

buku cokroaminotoSukarno muda, dalam pergolakan jiwa remaja dengan nuansa cinta monyet, dalam iklim “gaul” ABG pada zamannya… sama sekali tidak mendapatkan itu secara sebebas-bebasnya. Di rumah, Cokro mendidiknya dengan keras. Hampir setiap hari, sepanjang malam, dan di kala senggang, Bung Karno duduk di dekat kaki Cokro, dan dialirkannya buku-buku ke pangkuan Sukarno. Ya… Cokro bukan figur pengganti ayah yang siap menerima keluh-kesah. Bukan figur ayah yang siap menerima pengaduan anaknya. Bukan pula figur ayah yang menghiburnya di kala sedih. Tapi itu pula yang menjadikan Sukarno akrab dengan literatur… dan banyak literatur lainnya di kemudian hari.

Begitulah, akhirnya Bung Karno tenggelam dalam lautan bacaan. Sejak usia 15-an tahun, manakala teman-teman sebaya asyik bermain di taman lapang, Sukarno justru sedang belajar. Sementara teman-temannya asyik bersantai, Sukarno justru sedang melalap buku demi buku. Mulailah Sukarno menemukan “teman-teman” lain dari buku-buku yang dibacanya. “Teman-teman” itu bukan sembarang teman, melainkan tokoh-tokoh besar dunia.

Melalui adi pustaka itu pula, jadilah Sukarno merasa berbicara dengan Thomas Jefferson. Ia seperti mendapat penuturan langsung dari Jefferson mengenai Declaration of Independence yang ditulisnya tahun 1776. Dengan Jefferson pula ia memperbincangkan George Washington. Tak terkecuali, Sukarno pun “bersahabat” dengan Paul Revere. Kemudian Bung Karno mencari-cari kesalahan Abraham Lincoln untuk kemudian dicarikan tanggapannya dari Jefferson. Begitulah Bung Karno tanpa sadar berlayar mengarungi lautan pustaka, membuat kajian-kajian… membuat perbandingan-perbandingan…. Esensi di dalam buku-buku tadi, kemudian meresap begitu dalam menjadi sebuah penghayatan dan pengetahuan seorang Sukarno.

Maka, sangat aneh kalau ada tudingan yang mengatakan Bung Karno tidak suka Amerika. Dalam penuturannya kepada Cindy Adams di biografi Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, jelas sekali bahwa semasa muda, Sukarno memuja pahlawan-pahlawan Amerika. Bahkan, Sukarno mencintai rakyat Amerika. Sukarno juga membaca majalah-majalah populer Amerika hingga menjelang akhir hayatnya.

Ada yang kurang dipahami sebagian orang yang menuding Sukarno anti Amerika. Adalah kenyataan bahwa Sukarno juga belajar dan mengkaji secara mendalam Gladstone dari Inggris, juga Sidney dan Beatrice Webb yang mendirikan Gerakan Buruh Inggris. Bukan hanya itu, Sukarno juga mempelajari Mazzini, Cavour, dan Garibaldi dari Italia. Tidak berhenti sampai di situ, Sukarno juga melahap habis kajian tentang Karl Marx, Friedrich Engels dan Lenin dari Rusia.

Sebatas itukah pengetahuan Sukarno tentang tokoh-tokoh dunia? Tidak! Sukarno juga”ngobrol” dengan Jean Jacques Rousseau, Aristide Briand dan Jean Jaures ahli pidato terbesar dalam sejarah Perancis. Kesemua perjalanan tokoh besar tadi, menginspirasi Sukarno pada masa-masa selanjutnya. Di samping, pelajaran-pelajaran yang ia timba semasa sekolah. Karenanya, ia juga paham sejarah Yunani kuno. Ia menyerap sedalam-dalamnya protes atas segala bentuk penindasan. “Persetan dengan penindasan!!!” pekiknya setiap berpidato tanpa pendengar di kamarnya yang gelap. “Hidup Kemerdekaan!!!” teriak Bung Karno keras-keras di dalam kesendiriannya, di kamar tanpa jendela, di kediaman Cokroaminoto.

Baiklah…. berikut ini adalah secuil kisah tentang Cokroaminoto, salah satu tokoh besar Indonesia.

Haji Omar Said Cokroaminoto lahir di Ponorogo 6 Agustus 1882, dan meninggal dunia pada 17 Desember 1934, dan dimakamkan di TMP Pekuncen, Yogyakarta. Dia dikenal sebagai Ketua Partai Politik Sarekat Islam. Cokro lahir di Ponorogo, Jawa Timur, anak kedua dari 12 orang bersaudara. Ayahnya, R. M. Cokroamiseno, seorang pegawai pemerintahan, pamannya, R. M. Cokronegoro, pernah menjabat Bupati Ponorogo.

Sebagai salah satu pelopor pergerakan nasional, Cokroaminoto mempunyai tiga orang pengikut yang kemudian mewarnai politik Indonesia. Mereka adalah Sukarno (ahli nasionalisme), Semaoen (ahli sosialisme), dan Kartosuwiryo (ahli agama). Di kemudian hari, ketiganya saling berseberangan. Semaoen dengan Alimin dan Muso terlibat pemberontakan PKI di Madiun 1947. Sedangkan Kartosuwiryo dikenal sebagai dedengkot Darul Islam (DI)/TII dan memproklamasikan Negara Islam Indonesia pada 7 Agustus 1948

Iklan

One thought on “Pelopor Kebangkitan Nasional

Bangga Jadi Orang Indonesia

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s